Pernah denger tentang pantura? Pantura adalah kependekan dari pantai utara jawa. Istilah pantura biasa diberikan untuk jalur lalu lintas mudik melewati jalan-jalan di sepanjang pantai utara jawa.

Sebagai pengguna jalur pantura saat bolak-balik tangerang - jogj, saya asli jogja tapi tinggal di tangerang, sudah tidak perlu dihitung lagi berapa kali melewati pantura. Setidaknya setahun 2 kali lewat pantura. Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar 12 jam tersebut, maklum naik bus. Dalam perjalanan tersebut setidaknya ada satu kali bus beristirahat di rumah makan, ya di rumah makan bukan di restoran, hehehehe. Saat itulah waktu untuk mengisi perut bagi penumpang, pak sopir dan pak kernet (belum pernah naik bus yang kernet dan sopirnya bu) yang tidak membawa makanan sendiri kalo yang bawa ya bisa makan saat bus sedang berjalan.

Entah sudah berapa rumah makan juga yang saya singgahi, maklum dari dulu sering ganti-ganti perusahaan bus. Yang jelas ada satu persamaan dari rumah makan - rumah makan tersebut. Yaitu masalah harga. Harga makan nasi plus lauk di berbagai rumah makan tersebut menurut saya cukup mahal, gak tau kalo menurut orang lain. Saya tidak tahu bagaimana para kasir di rumah makan tersebut memberi harga. Sering saya jumpai bahwa si kasir tersebut tidak menghitung, hanya melihat apa yang ada di piring dia langsung mematok harga. Mungkin juga saking seringnya jadi otaknya cepet banget dalam menghitung, hehehehe. Ada juga yang menggunakan mesin kasir tapi yang ditulis langsung jumlah total bukan, misalnya, nasi berapa, daging berapa, minum berapa dan seterusnya.

Terakhir saat menuju tangerang kemarin, saya makan menggunakan : nasi (jelas ini mah), rendang dengan potongan kecil daging, mi goreng, sop bakso dan teh anget, harganya Rp. 14.000,- kalo misalnya saya makan di warteg di tangerang saya yakin gak akan lebih dari Rp. 10.000,- Yang paling gila-gilaan itu kalo waktu mudik lebaran harga-harga makanan bisa 2 kali lipat hari biasa. Pernah waktu itu saya berdua dengan kakak, makamn pake ayam sepotong dan sayur, berdua habis Rp. 45.000,-

Mungkin para pengelola rumah makan tersebut mengira bahwa kami-kami para penumpang ini adalah orang kaya, padahal tidak, la wong saya pengangguran je.