Aktivis Juga Manusia
“Men, kapan nih rapat lagi?? seru. Gue mau ngikut lagi” tanya si Gento pada Andi yang sedang menyeruput teh anget.
“Ah elo, man men man men, emang gue lagi dapet apa” jawab Andi yang disusul suara aneh macam suara idung kuda nil kemasukan teh anget. “Gila lo ampir mati gue” terusnya masih megap-megap.
“Ah, mana ada orang kemasukan teh anget di idung bikin mati, jangan berlebihan Ndi. Inget kata Saputra kemarin, semua itu ada takarannya jangan kayak pemerintah sekarang yang memerintah tanpa takaran. Tidak memperhatikan rakyat kecil hanya …” Suara Gento terhenti saat sebuah jaket tiba-tiba nyangsang di mukanya.
“Diem lo, baru juga sekali ikut rapat, dah banyak cing cong. Males gue” Jawab Andi yang ternyata sukses melemparkan jaketnya ke muka Gento.
“Yah elo Ndi, gue kan tertarik dengan yang begituan, suer deh lebih seru daripada nonton berita-berita di tipi” kata Gento cengengesan, kemudian berdiri sambil melempar jaket yang tadi dengan sukses menutup mukanya ke arah Andi.
“Sial lo, ini iler ya??” teriak Andi saat menerima jaketnya dan mendapati ada semacam air yang terlihat aneh di jaketnya. Saat itu si Gento sudah ngacir kearah pintu sambil ketawa-ketawa.
Begitulah pagi ini dimulai dengan keributan kecil yang tidak menumpahkan darah. Andi dan Gento adalah dua orang sahabat, satu angkatan, satu jurusan di teknik informatika Universitas Tahan Banting. Saking setianya bahkan mereka tinggal berdampingan di kos-kosan khusus cowok ini, kemana-mana mereka selalu berdua, berangkat ke kampus, ngerjain tugas, nonton kecelakaan, apa-apa berdua. Gento bahkan pernah ngajakin candle light dinner berdua yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Andi. Pokoknya, menurut si Gento, ada Andi ada Gento, punya Andi adalah punya Gento tapi punya Gento ya punya Gento sendiri, hehehe
Siangnya, saat sedang menikmati makan siang di kantin kembali si Gento yang kebetulan tadi ditinggalin saat sedang negecengin kakak tingkat yang caem, kembali menghampiri.
“Mau apa lagi lo??” kata Andi sambil tangan kirinya siap-siap nyambitin mangkok soto yang ada di meja.
“Mau makan lah” jawab si Gento cuek sambil memanggil mbak penjaga kantin dan memesan semangkok soto yang gak pake bakso.
“Jujur coi, gue demen acara kayak kemarin, membangkitkan semangat kita sebagai generasi muda bangsa. Biar kita tuh sadar perjuangan kita masih panjang, masih banyak waktu sisa, jangan biarkan dirimu… lo kok gue malah nyanyi sih, intinya kita bisa ikut melakukan perubahan pada bangsa ini, meskipun tidak secara langsung, ya dengan tidak tawuranlah, tidak nonton bokeplah, kuliah yang bener lah, ya kayak yang dibilang Saputra kemarin, betul tidak coi” si Gento terus menyerocos tanpa memperdulikan beberapa mahasiswi semanis gula di deket mereka tampak senyum-senyum mendengar perkataan anak aneh bin rada ajaib ini.
“Beneran Ndi gue salut sama Saputra, masih mahasiswa tapi sudah berpikir jauh kedepan, rajin berorganisasi, rajin mengaji, wah pantes jadi mahasiswa teladan deh, gak kayak gue yang ngerjain tugas aja masih nyontek ke elo” sambungnya lagi.
“Nah tuh tumben nyadar. Udah udah diem lo, yang penting makan dulu, tar kita tanya ke si Saputra, si ketua gerakan mahasiswa tahan banting itu, gue tahu alamat kosan dia” akhirnya Andi nyerah juga, sepertinya dia takut kalau-kalau temennya itu tambah nyerocos yang enggak-enggak. Maklum Gento ini termasuk mahasiswa mudah terpengaruh. Ada apa-apa pengen. Bahkan saat ada mahasiswi ijin ke kamar kecil waktu kuliah pun dia pengen nganterin, biar gak digangguin katanya.
Sore ini udara lumayan cerah, secerah hati dua orang anak muda yang tampak mesra berboncengan sepeda motor entah mau menuju kemana. Eh gak ding, ternyata yang duduk didepan tidak cerah, malah tampak manyun. Sepertinya dia tidak suka dengan gaya membonceng temennya yang kedua tangannya tampak mesra memeluk tubuhnya, sedang di tepi jalan tampak beberapa orang senyum-semyum melihat tingkah dua cowok yang lewat di depan mereka.
“Kalau gak salah dideket sini kos-kosannya Saputra” kata Andi. “Coba To lo nanya-nanya siapa tahu kita udah nyasar” terusnya.
“Nanyanya di depan sono aja Ndi, banyak mahasiswi tuh” jawab Gento cengengesan. Oya perlu diberitahukan bahwa Gento ini meskipun selalu mengaku paling ganteng sekampus saat kampus gak ada siapa-siapa tapi tidak punya pacar, padahal menurut Andi Gento ini gak ancur-ancur amat, cuma ancur aja karena si amat ternyata gak mau deket-deket Gento.
“Misi, sore mbak, mau nanya nih” sapa Gento pada dua orang mahasiswi yang tampaknya sedang asyik bergosip sore.
“Iya, ada yang bisa dibantu??” jawab mahasiswi berkaos merah yang mukanya mirip-mirip Nia Ramadhani. Sedang temennya yang kulitnya putih dan pake kaos warna ijo lumut tampak lirik-lirik kearah Andi yang memang semua orang, selain Gento tentunya, setuju bahwa dia lebih kece dari temennya itu.
“O, enggak mbak. Kita gak minta bantuan kok cuma mau nanya” kata Gento serius. “Kos kosan terang benderang dimana ya??” terusnya lagi, sambil ngajak si kaos merah main mata, dengan sedikit mengedipkan mata kirinya.
“Kalo kos kosan terang benderang lurus aja mas, terus belok kiri nah sampe deh” jawab si kaos merah yang tampaknya bete dikedipin sama Gento. Sedang si Gento dengan still pede dan yakin terus saja ngedip-ngedipin matanya. “Kenapa mas, kelilipan ya?? kok kedip-kedip terus?” tanya si kaos merah lagi.
“Oeoi, gak kok agak pedes aja matanya, jarang liat cewek cakep soalnya” jawab si Gento pede. “Jadi lurus terus belok kiri ya, ok makasih ya” kata si Gento lagi. “Ayo Ndi kita berangkat lagi meneruskan perjalanan, katanya dah deket tuh”. Setelah berbasa-basi sejenak dengan kedua mahasiswi tadi Gento pun kembali membonceng Andi sambil tak lupa kedua tangannya memeluk sohibnya itu.
Mereka pun kembali melaju dengan diiringi senyuman kedua mahasiswi tadi. “Dasar orang aneh” kata si kaos merah. “Tapi lo suka kan??” sambut si kaos ijo lumut. Mereka berdua pun tertawa cekikikan mirip-mirip kuntilanak di siang hari, nah lo.
Akhirnya sampailah mereka di kos kosan yang mereka cari-cari. Sebuah kos kosan yang tampak lumayan mewah dengan sebuah papan pengumuman bertuliskan, dengan huruf besar-besar.
<pre>KOS KOSAN TERANG BENDERANG</pre>
<pre>Fasilitas : taman bermain, kolam renang, pusat perbelanjaan, pusat kebugaran dll</pre>
<pre></pre>
Seorang bapak-bapak tampak sedang asyik menyiram taneman di pekarangan.
“Permisi pak, apa benar, Saputra Wijayanto ngekos disini?” tanya Andi dengan sopan.
“Benar dik, temennya ya?” jawab bapak-bapak itu yang kalau diperhatikan bener-bener kayaknya adalah bapak kok, alias yang punya kos, tapi bisa juga cuma pembantu atau tukang jaga malam. Maklum orang sekarang keren-keren, sehingga susah dibedakan mana tukang jaga malam mana direktur perusahaan.
“Iya pak kami temen sekampusnya” jawab Andi lagi.
“Langsung aja kekamarnya, tuh yang paling ujung, yang ada stiker tulisan maju terus pantang mundur” kata bapak-bapak itu sambil menunjuk sebuah kamar yang pintunya tampak terbuka sedikit.
“Terima kasih pak” kedua sahabat itupun langsung menuju tempat yang dimaksud. Dan benar sekali bapak-bapak itu, di depan pintu kamar itu selain stiker-stiker gambar kuaci dan stiker hadiah permen gocapan ada sebuah stiker bertuliskan :
<address>Maju Terus Pantang Mundur, Kecuali Dipaksa Polisi</address> <address> </address>”Hebat memang ketua aktivis mahasiswa kita itu” kata Gento. “Sampe di pintu kosannya pun ada slogan perjuangan mahasiswa” sambungnya lagi.
“Saputra” panggil Andi tanpa memperdulikan ocehan Gento.
“Masuk aja gak dikunci kok” jawab suara dari dalam kamar.
Berhubung sudah dipersilahkan, Gento langsung saja nyelonong masuk kamar kosan itu tanpa permisi lagi disusul Andi yang tampak masih malu-malu. Begitu didalam, keduanya mendapati si ketua aktivis mahasiswa itu sedang menonton filem porno dan di lantai kamarnya tampak berserakan majalah-majalah yang menampilkan gambar dewasa.
Keduanya berpandangan, kemudian langsung keluar tanpa ngomong apa-apa.
“Gak ah, gue gak mau ikut-ikutan rapat aktivis mahasiswa lagi” kata Gento. “Ketuanya gak bermoral, ngomonganya gimana, ternyata aslinya gimana” sambungnya lagi.
Sedang Saputra tampak bingung ketika dua orang tamunya tersebut langsung keluar lagi begitu melihat apa yang sedang dilakukannya.
“La gue salah apa sih?” kata Saputra sambil menggaruk kepalanya, dan meneruskan kegiatannya yang sempat terganggu kedatangan dua orang tadi.

Lha, pengalaman pribadi nih ceritanya? :p
nama-nama disamarkan?
@om donny, bukan om
@mas blankon, bukan juga